Bagaimana Kita Tahu Sebuah Reaksi Sedang Berlangsung?

Bayangkan kamu memasukkan dua larutan bening ke dalam sebuah gelas kimia.

Awalnya tidak ada sesuatu yang istimewa.

Keduanya tampak seperti air.

Beberapa detik kemudian...

warna larutan berubah.

Atau mungkin muncul:

gelembung gas.

Atau:

larutan menjadi keruh dan terbentuk endapan.

Atau bahkan:

suhu larutan berubah.

Kita mulai menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah perubahan yang kita lihat itu benar-benar menunjukkan bahwa reaksi kimia sedang berlangsung?

Dan yang lebih menarik:

Bagaimana seorang kimiawan mengetahui bahwa reaksi berlangsung semakin cepat atau semakin lambat?

Inilah awal dari cara kita mengamati dan mengukur laju reaksi.


๐Ÿ‘€ Kita Tidak Bisa Melihat Molekul Bereaksi

Ada satu masalah besar ketika kita mempelajari reaksi kimia.

Molekul terlalu kecil untuk kita lihat secara langsung dengan mata.

Ketika:

A + B โ†’ C

kita tidak dapat melihat molekul A bertumbukan dengan B kemudian berubah menjadi C.

Lalu bagaimana kita tahu bahwa reaksi benar-benar terjadi?

Kita mengamati perubahan yang dapat diamati atau diukur.

Misalnya:

  • warna berubah;
  • terbentuk gas;
  • terbentuk endapan;
  • suhu berubah;
  • pH berubah;
  • tekanan berubah;
  • atau konsentrasi suatu zat berubah.

Dengan kata lain:

Kita tidak melihat reaksi pada tingkat partikel secara langsung. Kita mengamati akibat yang ditimbulkan oleh perubahan pada tingkat partikel.

Ini adalah salah satu cara penting ilmu kimia menghubungkan dunia mikroskopis dengan dunia yang dapat kita amati.


๐ŸŽจ 1. Perubahan Warna

Salah satu tanda reaksi yang paling mudah diamati adalah perubahan warna.

Misalnya suatu larutan awalnya:

bening โ†’ berwarna

atau:

kuning โ†’ cokelat

atau:

biru โ†’ hijau

Perubahan warna dapat terjadi karena terbentuknya spesies kimia baru atau karena konsentrasi suatu spesies berubah.

ย 

https://images.openai.com/static-rsc-4/DERCBlDegJNaHxS-KD-p5BFPTqxmaQJK6Yznp83MHd_f-U5rEEt9L4qSA4iDzLl3zXm-ufMCDqjWgtOhoEhnoXS4tXmP6tDd-_Y2YwzQbEsdHjhn3lM14LIuZBEu6GpnPI2T8qi7HCs3KEfVft39RCv0E1JJpaezUpLFkKLsTzGD8gjVcL23YUfVKJy51v2Y?purpose=fullsize

Namun kita harus berhati-hati.

Tidak semua perubahan warna merupakan bukti reaksi kimia.

Misalnya pewarna yang hanya dicampurkan ke air dapat membuat air berubah warna tanpa menghasilkan zat baru.

Jadi perubahan warna adalah petunjuk, bukan satu-satunya bukti.


๐Ÿ’จ 2. Terbentuknya Gas

Pernah melihat tablet effervescent dimasukkan ke dalam air?

Muncul banyak gelembung.

Gelembung tersebut menunjukkan terbentuknya gas.

Contoh lain adalah ketika suatu asam bereaksi dengan karbonat.

Misalnya secara sederhana:

asam + karbonat โ†’ garam + air + karbon dioksida

Gas COโ‚‚ yang terbentuk dapat diamati sebagai gelembung.

Ini merupakan salah satu cara yang sangat mudah untuk menunjukkan bahwa suatu reaksi sedang berlangsung.

Tetapi sekali lagi:

Tidak setiap gelembung berarti terjadi reaksi kimia.

Air yang dipanaskan juga dapat menghasilkan gelembung, tetapi gelembung tersebut berasal dari perubahan fisik, bukan pembentukan zat baru.


โ˜๏ธ 3. Terbentuknya Endapan

Bayangkan dua larutan yang awalnya sama-sama bening.

Ketika dicampurkan:

bening + bening

โ†“

larutan menjadi keruh

โ†“

terbentuk padatan

Padatan yang terbentuk disebut endapan.

Misalnya:

Agโบ(aq) + Clโป(aq) โ†’ AgCl(s)

Perak klorida yang terbentuk memiliki kelarutan sangat rendah sehingga muncul sebagai padatan.

Endapan merupakan petunjuk kuat bahwa terjadi perubahan kimia.

https://images.openai.com/static-rsc-4/raqscDRfczqAx9_BcNXHBjxrgCz_-1n6sWKtagdwzVciGfk6SVbkKM_7Eb_83PX1XKu4w9H-zMM-_ysuscFCgpzQNSPdbK-hM3N18zAS8gbjbAMbl4mw5QkXNUZyPurkoHhowWkRv5iTv2ZbP2lpXi95cYpD3FLFHZQ9L4L6gqBKvIA9llUgrCj7YQwJy_jy?purpose=fullsize


๐ŸŒก๏ธ 4. Perubahan Suhu

Ada reaksi yang menghasilkan panas.

Ada pula yang menyerap panas.

Misalnya ketika suatu reaksi berlangsung, kita mengukur suhu:

25 ยฐC โ†’ 32 ยฐC

Kita dapat menyimpulkan bahwa sistem mengalami pelepasan energi ke lingkungan.

Sebaliknya:

25 ยฐC โ†’ 19 ยฐC

menunjukkan bahwa sistem menyerap energi dari lingkungan.

Tetapi perlu diperhatikan:

Perubahan suhu tidak selalu berarti reaksi kimia.

Pemanasan biasa juga dapat mengubah suhu tanpa menghasilkan zat baru.

Karena itu pengamatan suhu perlu dikaitkan dengan perubahan kimia lainnya atau dengan sistem yang memang diketahui mengalami reaksi.


๐Ÿ‘ƒ 5. Terbentuknya Zat dengan Sifat Berbeda

Kadang-kadang produk reaksi memiliki sifat yang berbeda dari pereaksinya.

Misalnya terbentuk gas dengan bau tertentu.

Namun untuk pembelajaran kimia modern, kita harus berhati-hati dengan cara mengamati bau.

Jangan pernah mencium langsung zat kimia di laboratorium.

Jika sifat bau perlu digunakan sebagai indikator, prosedur keselamatan laboratorium harus diterapkan dengan benar.

Yang lebih penting adalah memahami konsepnya:

Reaksi kimia dapat menghasilkan zat dengan sifat yang berbeda dari zat awal.


๐Ÿ“ 6. Perubahan yang Tidak Terlihat oleh Mata

Nah, di sinilah kimia menjadi semakin menarik.

Tidak semua reaksi menghasilkan perubahan yang mudah dilihat.

Bayangkan sebuah reaksi:

A โ†’ B

Jika A dan B sama-sama tidak berwarna, tidak menghasilkan gas, tidak menghasilkan endapan, dan suhu hampir tidak berubah...

Apakah reaksinya tidak terjadi?

Belum tentu.

Bisa saja reaksi berlangsung, tetapi perubahan yang terjadi tidak dapat diamati secara langsung.

Karena itu kimiawan menggunakan alat ukur.

Misalnya:

  • spektrofotometer untuk mengukur perubahan absorbansi;
  • pH meter untuk mengukur perubahan pH;
  • termometer untuk mengukur suhu;
  • sensor tekanan untuk mengukur tekanan;
  • konduktivitas meter untuk mengukur kemampuan larutan menghantarkan listrik.

Dengan alat tersebut, perubahan yang tidak terlihat dapat dibuat terukur.


๐Ÿ”ฌ Dari "Melihat" ke "Mengukur"

Ini merupakan langkah penting dalam mempelajari laju reaksi.

Pada tahap awal kita mungkin hanya mengatakan:

"Reaksi A tampaknya lebih cepat daripada reaksi B."

Tetapi seorang ilmuwan tidak berhenti pada kata tampaknya.

Ia bertanya:

"Bagaimana kita dapat membuktikannya dengan data?"

Misalnya kita mengukur jumlah gas yang terbentuk setiap menit.

Hasilnya:

Waktu (menit) Volume gas (mL)
0 0
1 18
2 33
3 45
4 54

Sekarang kita tidak hanya mengatakan:

"Gas semakin banyak."

Kita memiliki data.

Dari data tersebut kita dapat menentukan seberapa cepat jumlah gas bertambah.

Inilah yang membawa kita pada konsep laju reaksi.


๐Ÿ“ˆ Reaksi yang Cepat dan Reaksi yang Lambat

Bayangkan dua reaksi menghasilkan gas.

Reaksi A

Dalam satu menit menghasilkan:

50 mL gas

Reaksi B

Dalam satu menit menghasilkan:

5 mL gas

Jika kondisi eksperimennya sebanding, Reaksi A menghasilkan produk lebih cepat.

Maka:

Reaksi A memiliki laju reaksi yang lebih besar.

Jadi laju reaksi pada dasarnya berkaitan dengan:

seberapa cepat jumlah atau konsentrasi suatu zat berubah terhadap waktu.


โฑ๏ธ Waktu Menjadi Sangat Penting

Perhatikan dua eksperimen berikut.

Eksperimen 1

Dalam 10 detik:

konsentrasi A turun 0,20 mol/L

Eksperimen 2

Dalam 10 detik:

konsentrasi A turun 0,02 mol/L

Keduanya mengalami perubahan.

Tetapi perubahan pada eksperimen pertama jauh lebih besar dalam waktu yang sama.

Artinya:

reaksi pertama berlangsung lebih cepat.

Jadi ketika mempelajari laju reaksi, kita tidak cukup bertanya:

"Berapa banyak produk terbentuk?"

Kita juga harus bertanya:

"Berapa banyak produk terbentuk dalam berapa lama?"


๐Ÿง  AHA Moment: Reaksi adalah Perubahan terhadap Waktu

Ini inti dari seluruh seri laju reaksi.

Kita dapat melihat reaksi sebagai sebuah proses:

pereaksi

โ†“

berubah seiring waktu

โ†“

produk

Semakin cepat perubahan tersebut berlangsung:

semakin besar laju reaksi.

Semakin lambat perubahan:

semakin kecil laju reaksi.

Jadi kata "laju" sebenarnya sangat penting.

Laju selalu mengandung gagasan:

perubahan รท waktu


๐Ÿงช Mengapa Konsentrasi Bisa Digunakan?

Dalam banyak reaksi larutan, kita tidak menghitung satu per satu jumlah molekul.

Tentu saja hampir mustahil menghitung miliaran atau triliunan molekul secara langsung.

Sebagai gantinya kita menggunakan besaran yang dapat diukur.

Salah satunya adalah konsentrasi.

Jika konsentrasi pereaksi semakin berkurang seiring waktu, kita dapat menggunakan perubahan tersebut untuk menentukan laju reaksi.

Sebaliknya, jika konsentrasi produk semakin bertambah, perubahan tersebut juga dapat digunakan.

Dengan demikian:

perubahan konsentrasi terhadap waktu menjadi salah satu cara utama untuk menentukan laju reaksi.


๐Ÿ’ก Bagaimana Jika Tidak Bisa Mengukur Konsentrasi Langsung?

Tidak masalah.

Kita dapat mencari besaran lain yang berhubungan dengan konsentrasi.

Misalnya:

Jika menghasilkan gas

Kita dapat mengukur:

volume gas terhadap waktu.

Jika menghasilkan endapan

Kita dapat mengukur:

massa endapan terhadap waktu.

Jika warna berubah

Kita dapat mengukur:

intensitas warna atau absorbansi terhadap waktu.

Jika pH berubah

Kita dapat mengukur:

pH terhadap waktu.

Jadi seorang kimiawan memilih besaran yang paling mudah diukur untuk mengikuti perkembangan reaksi.


๐Ÿ”Ž Tidak Semua "Tanda Reaksi" Cocok untuk Mengukur Laju

Ini juga penting.

Misalnya kita melihat sebuah larutan berubah warna.

Kita tahu sesuatu berubah.

Tetapi jika kita ingin mengetahui seberapa cepat reaksi berlangsung, kita membutuhkan pengukuran yang dapat dilakukan berulang kali.

Misalnya:

waktu โ†’ intensitas warna

atau:

waktu โ†’ konsentrasi zat

Dengan demikian kita memperoleh data yang dapat dianalisis.

Jadi ada perbedaan antara:

mendeteksi bahwa reaksi terjadi

dan

mengukur seberapa cepat reaksi terjadi.


๐Ÿงฉ Dari Pengamatan Menuju Eksperimen

Bayangkan seorang siswa melakukan percobaan:

Mg + HCl โ†’ MgClโ‚‚ + Hโ‚‚

Ia melihat gelembung gas.

Ia dapat mengatakan:

"Terbentuk gas."

Tetapi eksperimen laju reaksi akan bertanya lebih jauh:

  • Berapa volume gas setelah 10 detik?
  • Berapa setelah 20 detik?
  • Berapa setelah 30 detik?
  • Bagaimana bentuk grafiknya?
  • Apa yang terjadi jika konsentrasi HCl diubah?
  • Apa yang terjadi jika suhu dinaikkan?

Sekarang eksperimen tidak lagi sekadar:

"Ada reaksi."

Tetapi menjadi:

"Bagaimana karakteristik perubahan reaksi tersebut terhadap waktu?"

Inilah cara berpikir ilmiah mulai berkembang.


๐Ÿ“Š Grafik Bisa Menceritakan Jalannya Reaksi

Misalnya kita membuat grafik:

sumbu horizontal โ†’ waktu

sumbu vertikal โ†’ jumlah produk

Jika kurva naik dengan sangat tajam di awal, kemudian semakin landai, kita mendapatkan informasi penting.

Reaksi berlangsung:

cepat di awal

kemudian:

semakin lambat.

Mengapa?

Karena konsentrasi pereaksi biasanya semakin berkurang sehingga frekuensi tumbukan efektif juga dapat menurun.

https://images.openai.com/static-rsc-4/Q0JsQNj1zp-MOMVc9wkhdBcvmOemryGWgHp8OmufOZzCDmlYJP28aqXQWz4HHj79zZaLPwV3TYUtFCyfnaOeelCjVj3LdLeOb2MNeqCbnup5HyLRRA9kQtcNl6_Y1h_LUv22AvJArBbJmoPwA6bud1Hlq-iUDKkyK1Aad9w51pk0f-N-hLKKgRA5XXZRWzh2?purpose=fullsize

Jadi grafik bukan hanya gambar.

Grafik adalah cara untuk menceritakan bagaimana reaksi berkembang terhadap waktu.


๐Ÿ”— Hubungannya dengan Artikel-Artikel Sebelumnya

Sekarang kita bisa melihat bahwa artikel-artikel dalam seri ini sebenarnya saling terhubung.

Mengapa reaksi bisa berlangsung?

Kita mengenal teori tumbukan.

Mengapa suhu membuat reaksi lebih cepat?

Karena distribusi energi partikel berubah.

Mengapa serbuk lebih cepat bereaksi?

Karena luas permukaan kontak lebih besar.

Mengapa larutan pekat lebih cepat bereaksi?

Karena jumlah partikel dalam volume tertentu lebih banyak.

Mengapa katalis mempercepat reaksi?

Karena tersedia jalur dengan energi aktivasi lebih rendah.

Mengapa katalis tidak habis?

Karena katalis diregenerasi dalam mekanisme reaksi.

Lalu bagaimana kita tahu semua itu?

Kita mengamati dan mengukur perubahan yang terjadi terhadap waktu.

Inilah yang menjadi dasar eksperimen laju reaksi.


๐Ÿง  AHA Moment Besar

Kita sebenarnya tidak melihat "laju reaksi" secara langsung.

Laju reaksi adalah besaran yang kita tentukan dari perubahan yang dapat diamati atau diukur.

Kita mengukur:

perubahan jumlah zat

atau

perubahan konsentrasi

atau

perubahan besaran lain yang berkaitan dengan reaksi

selama:

interval waktu tertentu.

Kemudian dari data tersebut kita menentukan laju.

Jadi:

Laju reaksi bukan sesuatu yang kita lihat dengan mata, melainkan sesuatu yang kita tentukan dari data hasil pengamatan.


โ“ FAQ

1. Apa tanda bahwa reaksi kimia sedang berlangsung?

Beberapa petunjuk antara lain perubahan warna, terbentuknya gas, terbentuknya endapan, perubahan suhu, atau perubahan sifat kimia lainnya.

2. Apakah muncul gelembung selalu berarti terjadi reaksi kimia?

Tidak. Gelembung dapat berasal dari reaksi kimia, tetapi juga dapat berasal dari proses fisik seperti pendidihan.

3. Apakah perubahan warna selalu menunjukkan reaksi kimia?

Tidak selalu. Perubahan warna dapat terjadi tanpa terbentuknya zat baru. Karena itu diperlukan pengamatan dan analisis lebih lanjut.

4. Bagaimana ilmuwan mengetahui reaksi yang tidak terlihat?

Dengan menggunakan instrumen yang dapat mengukur perubahan tertentu, misalnya pH, tekanan, absorbansi, konduktivitas, atau konsentrasi.

5. Apa hubungan pengamatan dengan laju reaksi?

Pengamatan menghasilkan data tentang perubahan suatu sistem terhadap waktu. Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan laju reaksi.

6. Mengapa waktu penting dalam laju reaksi?

Karena laju menyatakan seberapa cepat suatu perubahan terjadi. Perubahan yang sama dapat berlangsung cepat atau lambat tergantung waktu yang diperlukan.

7. Apakah semakin banyak produk berarti reaksinya semakin cepat?

Belum tentu. Kecepatan harus dilihat dengan mempertimbangkan waktu. Yang penting adalah berapa banyak perubahan terjadi per satuan waktu.


๐Ÿ“Œ Kesimpulan

Bagaimana kita tahu sebuah reaksi sedang berlangsung?

Kita mengamati perubahan.

Perubahan tersebut dapat berupa:

warna berubah

gas terbentuk

endapan muncul

suhu berubah

pH berubah

tekanan berubah

atau perubahan besaran lain yang dapat diukur.

Tetapi dalam mempelajari laju reaksi, kita tidak berhenti pada pertanyaan:

"Apakah terjadi perubahan?"

Kita melangkah lebih jauh:

"Seberapa cepat perubahan itu terjadi?"

Untuk menjawabnya, kita membutuhkan data dan waktu.

Dari sinilah konsep laju reaksi benar-benar dimulai.

Kimiawan tidak hanya mengamati bahwa sesuatu berubah. Mereka mengukur bagaimana perubahan itu berlangsung terhadap waktu.


๐Ÿ”— Artikel Terkait

Sebelumnya

  • Mengapa Kita Perlu Mempelajari Laju Reaksi?
  • Bagaimana Ilmuwan Menentukan Cepat atau Lambatnya Reaksi?
  • Mengapa Reaksi Bisa Berlangsung? Mengenal Teori Tumbukan
  • Mengapa Suhu Membuat Reaksi Lebih Cepat?
  • Mengapa Serbuk Bereaksi Lebih Cepat daripada Bongkahan?
  • Mengapa Larutan yang Pekat Bereaksi Lebih Cepat?
  • Mengapa Katalis Bisa Mempercepat Reaksi?
  • Mengapa Katalis Tidak Habis Bereaksi?
  • Apa Hubungan Energi Aktivasi dengan Laju Reaksi?

Berikutnya

  • Mengapa Laju Reaksi Lama-Kelamaan Menurun?
  • Bagaimana Menentukan Laju Reaksi dari Data Percobaan?
  • Apa Arti Grafik Laju Reaksi?
  • Bagaimana Menentukan Orde Reaksi?

๐Ÿ“š Daftar Pustaka

  1. Brown, T. L., LeMay, H. E., Bursten, B. E., Murphy, C. J., Woodward, P. M., & Stoltzfus, M. W. Chemistry: The Central Science. Pearson.
  2. Chang, R., & Goldsby, K. A. Chemistry. McGraw-Hill Education.
  3. OpenStax. Chemistry 2e. Rice University.
  4. Atkins, P., Jones, L., & Laverman, L. Chemical Principles: The Quest for Insight. W. H. Freeman.
  5. Petrucci, R. H., Herring, F. G., Madura, J. D., & Bissonnette, C. General Chemistry: Principles and Modern Applications. Pearson.