Mengapa Reaksi yang Awalnya Cepat Menjadi Lambat?
Bayangkan kamu memasukkan pita magnesium ke dalam larutan asam.
Pada awal reaksi:
gelembung gas muncul sangat banyak.
Beberapa saat kemudian:
gelembung masih muncul, tetapi lebih sedikit.
Semakin lama:
gelembung semakin jarang.
Akhirnya:
hampir tidak ada gelembung lagi.
Apa yang terjadi?
Apakah reaksinya "lelah"?
Tentu saja tidak.
Yang berubah adalah kondisi sistem selama reaksi berlangsung.
Salah satu alasan terpentingnya adalah:
jumlah atau konsentrasi pereaksi semakin berkurang.
Dan ketika konsentrasi pereaksi berkurang, peluang terjadinya tumbukan efektif juga dapat berkurang.
๐ Dari Data Kita Bisa Melihat Perubahannya
Pada artikel sebelumnya kita sudah belajar mengukur laju reaksi dari data.
Misalnya kita memperoleh data berikut:
| Waktu (s) | Konsentrasi A (mol/L) |
|---|---|
| 0 | 1,00 |
| 10 | 0,80 |
| 20 | 0,65 |
| 30 | 0,55 |
| 40 | 0,48 |
Perhatikan perubahan konsentrasi.
0โ10 detik
Berkurang:
0,20 mol/L
10โ20 detik
Berkurang:
0,15 mol/L
20โ30 detik
Berkurang:
0,10 mol/L
30โ40 detik
Berkurang:
0,07 mol/L
Perubahan yang terjadi dalam interval waktu yang sama semakin kecil.
Artinya:
laju reaksi semakin menurun.
๐ง AHA Moment
Coba bayangkan sebuah ruangan yang awalnya sangat ramai.
Ada banyak orang di dalamnya.
Jika semua orang bergerak secara acak, peluang dua orang bertemu cukup besar.
Sekarang bayangkan sebagian besar orang keluar.
Ruangan menjadi semakin sepi.
Peluang orang bertemu menjadi lebih kecil.
Dalam reaksi kimia, sesuatu yang mirip terjadi.
Pada awal reaksi:
banyak partikel pereaksi
โ
peluang tumbukan tinggi
โ
lebih banyak tumbukan efektif
โ
reaksi cepat.
Seiring waktu:
pereaksi dikonsumsi
โ
jumlah partikel pereaksi berkurang
โ
frekuensi tumbukan efektif dapat menurun
โ
reaksi menjadi lebih lambat.
โ๏ธ Konsentrasi Memainkan Peran Penting
Dalam larutan, konsentrasi menunjukkan banyaknya partikel zat dalam volume tertentu.
Misalnya:
larutan pekat
memiliki lebih banyak partikel dalam volume yang sama dibandingkan:
larutan encer.
Karena itu, pada awal reaksi ketika konsentrasi pereaksi masih tinggi, partikel lebih sering bertemu.
Ketika reaksi berlangsung, sebagian pereaksi berubah menjadi produk.
Akibatnya:
konsentrasi pereaksi turun.
Maka peluang partikel pereaksi untuk bertumbukan juga dapat berkurang.
๐ฅ Mari Kembali ke Teori Tumbukan
Pada artikel tentang teori tumbukan kita sudah belajar:
Tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi.
Agar menghasilkan reaksi, tumbukan harus memenuhi kondisi tertentu, termasuk memiliki energi yang cukup dan orientasi yang sesuai.
Sekarang kita tambahkan satu hal:
Jumlah tumbukan yang terjadi juga penting.
Jika jumlah partikel pereaksi sangat banyak:
lebih banyak peluang tumbukan.
Jika jumlah partikel semakin sedikit:
peluang tumbukan juga dapat menurun.
Jadi konsentrasi memengaruhi frekuensi tumbukan, sedangkan energi aktivasi membantu menentukan apakah tumbukan tersebut memiliki energi yang cukup untuk menghasilkan reaksi.
๐ฅ Mengapa Bukan Berarti Semua Reaksi Berhenti Mendadak?
Pertanyaan menarik.
Jika konsentrasi pereaksi menurun, mengapa laju reaksi tidak langsung menjadi nol?
Karena selama pereaksi masih tersedia, masih ada kemungkinan partikel bertumbukan dan bereaksi.
Jadi laju dapat berubah secara bertahap:
tinggi โ menurun โ semakin rendah โ mendekati nol.
Pada kondisi tertentu, jika salah satu pereaksi benar-benar habis:
reaksi tidak dapat terus berlangsung melalui jalur tersebut.
๐ Grafik Konsentrasi terhadap Waktu
Jika kita membuat grafik konsentrasi pereaksi terhadap waktu, biasanya kita mendapatkan kurva yang menurun.
Pada awal reaksi:
kurva lebih curam.
Artinya konsentrasi berubah dengan cepat.
Kemudian:
kurva semakin landai.
Artinya perubahan konsentrasi semakin lambat.
Jadi:
kemiringan grafik dapat memberi kita informasi tentang laju reaksi.
๐ Kemiringan Grafik dan Laju
Ingat kembali konsep pada artikel sebelumnya.
Laju berkaitan dengan:
Jika grafik konsentrasi pereaksi terhadap waktu semakin landai:
perubahan konsentrasi per satuan waktu semakin kecil.
Maka:
laju reaksi semakin kecil.
Dengan kata lain:
laju reaksi dapat berubah selama reaksi berlangsung.
Ini penting karena siswa kadang membayangkan bahwa satu reaksi memiliki satu nilai laju yang selalu sama.
Tidak selalu demikian.
โฑ๏ธ Laju Rata-Rata Bisa Berbeda pada Interval yang Berbeda
Gunakan data berikut:
| Interval waktu | Perubahan [A] |
|---|---|
| 0โ10 s | 0,20 mol/L |
| 10โ20 s | 0,15 mol/L |
| 20โ30 s | 0,10 mol/L |
| 30โ40 s | 0,07 mol/L |
Karena semua interval waktunya sama, yaitu 10 detik, kita bisa langsung melihat bahwa perubahan konsentrasi per interval semakin kecil.
Maka:
laju 0โ10 s > laju 10โ20 s > laju 20โ30 s > laju 30โ40 s
Inilah bukti sederhana bahwa reaksi menjadi semakin lambat.
๐งช Contoh Sehari-hari: Pembakaran
Apakah pembakaran kayu selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama?
Tidak.
Ketika bahan bakar masih banyak dan kondisi pembakaran mendukung, proses dapat berlangsung cepat.
Ketika bahan bakar semakin habis:
jumlah bahan yang dapat bereaksi berkurang.
Akibatnya proses pembakaran dapat melambat dan akhirnya berhenti.
Tentu saja pembakaran nyata melibatkan banyak faktor lain, seperti temperatur, suplai oksigen, luas permukaan, dan perpindahan panas.
Tetapi contoh ini membantu kita memahami gagasan dasarnya:
kondisi sistem berubah selama proses berlangsung.
๐ Contoh Lain: Pembusukan Makanan
Pada awal proses pembusukan, berbagai reaksi biologis dan kimia dapat berlangsung.
Seiring waktu, komposisi bahan berubah.
Kondisi lingkungan juga dapat berubah.
Akibatnya laju berbagai proses pembusukan tidak selalu konstan.
Ini menunjukkan bahwa:
reaksi kimia berlangsung dalam sistem yang dinamis.
Apa yang terjadi pada awal proses dapat berbeda dari apa yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari kemudian.
๐ง Apakah Suhu Selalu Menjadi Penyebab Utama?
Tidak selalu.
Misalnya sebuah reaksi berlangsung dalam wadah tertutup dan suhu dijaga tetap.
Meskipun suhunya konstan, laju reaksi masih dapat menurun.
Mengapa?
Karena konsentrasi pereaksi berubah.
Ini merupakan poin yang sangat penting.
Laju reaksi dapat berubah meskipun suhu tetap.
Sebabnya adalah faktor lain yang berubah selama reaksi, terutama konsentrasi pereaksi.
๐ง Jangan Sampai Tertukar
Ada dua pertanyaan berbeda:
Mengapa reaksi semakin cepat ketika suhu dinaikkan?
Karena lebih banyak partikel memiliki energi yang cukup untuk melewati energi aktivasi.
Mengapa reaksi yang sedang berlangsung bisa semakin lambat?
Karena pereaksi terus dikonsumsi sehingga konsentrasinya menurun dan peluang tumbukan efektif dapat berkurang.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan teori tumbukan, tetapi mekanismenya berbeda.
โ๏ธ Bagaimana Jika Reaksi Berlangsung Bolak-Balik?
Di sini ceritanya menjadi lebih menarik.
Tidak semua reaksi hanya:
A โ B
Ada reaksi yang dapat berlangsung:
A โ B
Artinya produk juga dapat kembali menjadi pereaksi.
Pada awalnya:
reaksi maju sangat dominan.
Namun ketika B mulai terbentuk:
reaksi balik mulai berlangsung.
Akhirnya dapat tercapai kondisi ketika:
laju reaksi maju sama dengan laju reaksi balik.
Inilah yang kita kenal sebagai kesetimbangan dinamis.
Jadi dalam reaksi reversibel, penurunan laju reaksi maju menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.
๐งฉ Hubungannya dengan Kesetimbangan
Misalnya:
A โ B
Pada awalnya hanya ada banyak A dan sangat sedikit B.
Maka:
A โ B
berlangsung relatif cepat.
Sementara:
B โ A
masih sangat lambat karena B sedikit.
Seiring waktu:
A berkurang
dan
B bertambah.
Akibatnya:
laju maju menurun
sedangkan:
laju balik meningkat.
Pada akhirnya:
laju maju = laju balik.
Sistem mencapai kesetimbangan.
Perhatikan:
Reaksi tidak berhenti.
Yang terjadi adalah reaksi maju dan balik berlangsung dengan laju yang sama.
๐ง AHA Moment Kedua
Jadi ketika kita melihat grafik laju reaksi menurun, jangan langsung berpikir:
"Reaksinya berhenti."
Belum tentu.
Bisa saja:
reaksi masih berlangsung, tetapi semakin lambat.
Bahkan dalam sistem reversibel:
reaksi maju dan balik dapat terus berlangsung secara bersamaan.
Ini merupakan salah satu gagasan penting dalam kimia:
Perubahan yang tampak melambat tidak selalu berarti prosesnya berhenti.
๐ฌ Bagaimana Percobaan Membuktikannya?
Kita dapat melakukan eksperimen sederhana.
Misalnya suatu reaksi menghasilkan gas.
Catat volume gas setiap 10 detik.
| Waktu | Volume gas |
|---|---|
| 0 s | 0 mL |
| 10 s | 20 mL |
| 20 s | 36 mL |
| 30 s | 48 mL |
| 40 s | 56 mL |
| 50 s | 62 mL |
Perhatikan:
10 detik pertama:
+20 mL
10 detik berikutnya:
+16 mL
Kemudian:
+12 mL
Kemudian:
+8 mL
Kemudian:
+6 mL
Jadi gas masih terbentuk.
Tetapi jumlah tambahan gas setiap 10 detik semakin kecil.
Artinya:
reaksi masih berlangsung, tetapi lajunya menurun.
๐ฑ Dari Sini Kita Bisa Memahami Banyak Fenomena
Konsep ini membantu menjelaskan mengapa:
- tablet effervescent awalnya sangat aktif kemudian semakin tenang;
- reaksi asam dengan logam menghasilkan gelembung yang awalnya banyak lalu berkurang;
- suatu pereaksi semakin lama semakin sulit menghasilkan produk;
- grafik konsentrasi terhadap waktu menjadi semakin landai;
- reaksi dapat mendekati kondisi akhir secara bertahap.
Semua memiliki satu benang merah:
komposisi sistem berubah seiring waktu.
โ FAQ
1. Mengapa laju reaksi biasanya paling besar di awal?
Karena konsentrasi pereaksi biasanya paling tinggi pada awal reaksi sehingga frekuensi tumbukan antarpereaksi juga lebih besar.
2. Apakah laju reaksi selalu menurun?
Tidak selalu. Untuk banyak reaksi dalam kondisi biasa, laju dapat menurun karena pereaksi berkurang. Tetapi perilaku laju bergantung pada mekanisme dan kondisi sistem.
3. Apakah suhu yang tetap berarti laju reaksi tetap?
Tidak. Laju masih dapat berubah karena konsentrasi pereaksi berubah.
4. Apakah ketika laju reaksi menurun berarti reaksi berhenti?
Tidak. Reaksi dapat tetap berlangsung dengan laju yang semakin kecil.
5. Mengapa grafik konsentrasi pereaksi terhadap waktu semakin landai?
Karena perubahan konsentrasi per satuan waktu semakin kecil sehingga laju konsumsi pereaksi menurun.
6. Apakah katalis dapat membuat laju reaksi tetap konstan?
Tidak. Katalis mempercepat proses melalui jalur reaksi dengan energi aktivasi lebih rendah, tetapi konsentrasi pereaksi tetap dapat berubah selama reaksi berlangsung.
๐ Kesimpulan
Laju reaksi tidak selalu tetap sepanjang proses.
Pada banyak reaksi:
awal reaksi
โ konsentrasi pereaksi tinggi
โ tumbukan lebih sering
โ lebih banyak tumbukan efektif
โ laju relatif besar.
Kemudian:
pereaksi dikonsumsi
โ konsentrasi menurun
โ peluang tumbukan efektif berkurang
โ laju menurun.
Karena itu grafik konsentrasi terhadap waktu sering menunjukkan:
kurva curam di awal โ semakin landai seiring waktu.
Namun ingat:
Laju yang menurun tidak berarti reaksi langsung berhenti.
Dan untuk reaksi reversibel, penurunan laju reaksi maju justru dapat membawa sistem menuju kesetimbangan dinamis.
Jadi ketika kita melihat sebuah reaksi semakin lambat, pertanyaan kimia yang menarik bukan hanya:
"Mengapa reaksinya melambat?"
tetapi:
"Apa yang berubah di dalam sistem sehingga laju reaksinya berubah?"
Itulah cara berpikir yang membawa kita dari sekadar mengamati reaksi menuju memahami kinetika kimia.
๐ Artikel Terkait
Sebelumnya
- Mengapa Kita Perlu Mempelajari Laju Reaksi?
- Bagaimana Ilmuwan Menentukan Cepat atau Lambatnya Reaksi?
- Mengapa Reaksi Bisa Berlangsung? Mengenal Teori Tumbukan
- Mengapa Suhu Membuat Reaksi Lebih Cepat?
- Mengapa Serbuk Bereaksi Lebih Cepat daripada Bongkahan?
- Mengapa Larutan yang Pekat Bereaksi Lebih Cepat?
- Mengapa Katalis Bisa Mempercepat Reaksi?
- Mengapa Katalis Tidak Habis Bereaksi?
- Apa Hubungan Energi Aktivasi dengan Laju Reaksi?
- Bagaimana Kita Tahu Sebuah Reaksi Kimia Sedang Berlangsung?
- Bagaimana Menentukan Laju Reaksi dari Data Percobaan?
Berikutnya
- Apa Arti Grafik Laju Reaksi?
- Mengapa Konsentrasi Memengaruhi Laju Reaksi?
- Bagaimana Menentukan Orde Reaksi?
- Apa Arti Persamaan Laju Reaksi?
๐ Daftar Pustaka
- Brown, T. L., LeMay, H. E., Bursten, B. E., Murphy, C. J., Woodward, P. M., & Stoltzfus, M. W. Chemistry: The Central Science. Pearson.
- Chang, R., & Goldsby, K. A. Chemistry. McGraw-Hill Education.
- OpenStax. Chemistry 2e. Rice University.
- Atkins, P., Jones, L., & Laverman, L. Chemical Principles: The Quest for Insight. W. H. Freeman.
- Petrucci, R. H., Herring, F. G., Madura, J. D., & Bissonnette, C. General Chemistry: Principles and Modern Applications. Pearson.